Dua tanda tangan, satu musim panas yang menentukan
Pada Kamis, 16 Juli 2026, di Shanghai, 29 negara menandatangani perjanjian pendirian World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO), organisasi antarpemerintah yang bermarkas di Shanghai. Indonesia termasuk pendiri; perjanjian ditandatangani Menko Perekonomian Airlangga Hartarto setelah arahan Presiden Prabowo Subianto dalam sidang kabinet 13 Juli. Dari ASEAN, lima negara ikut: Indonesia, Malaysia, Kamboja, Laos, dan Myanmar. Pendiri lain mencakup Rusia, Pakistan, dan Kazakhstan, dan sejumlah laporan menyebut Brasil serta Afrika Selatan. Kantor berita Xinhua mencatat Sekretaris Jenderal PBB hadir pada upacara penandatanganan.
Sehari kemudian, dalam pidato pertamanya di World AI Conference, Presiden Xi Jinping mendorong negara-negara memanfaatkan sumber terbuka, menjanjikan bantuan pembangunan kapasitas AI bagi negara berkembang, dan menekankan peran PBB. Xinhua melaporkan model sumber terbuka Tiongkok telah diunduh lebih dari 10 miliar kali. Menurut ringkasan Bloomberg, Xi juga memperkenalkan rencana aksi kerja sama yang mencakup akses komputasi bersama dan ekosistem sumber terbuka bagi negara berkembang.
Di saat yang sama, Indonesia tidak lepas dari orbit lain: Pax Silica, inisiatif pimpinan Amerika Serikat. Tulisan ini mencoba memetakan fakta, argumen kedua sisi, dan pertanyaan yang sebaiknya dijawab sebelum Indonesia melangkah lebih jauh. Kami tidak menilai apakah keputusan itu benar atau salah.
Apa itu Pax Silica?
Pax Silica diluncurkan Departemen Luar Negeri AS sebagai inisiatif unggulan untuk keamanan AI dan rantai pasok silikon (semikonduktor, mineral kritis, dan infrastruktur terkait). Pertemuan puncak pertamanya berlangsung di Washington pada 12 Desember 2025 dan menghasilkan Deklarasi Pax Silica. Menurut Antara pada Juli, anggotanya mencakup Australia, Finlandia, India, Israel, Jepang, Norwegia, Qatar, Korea Selatan, Singapura, Swedia, Filipina, Uni Emirat Arab, dan Inggris. Pada Juni, 10 mitra baru bergabung sehingga jumlahnya menjadi 24 negara dan ekonomi, dan 35 negara menandatangani pernyataan bersama tentang peluang AI. Inisiatif ini juga meluncurkan PaxPass, platform untuk mempercepat pengiriman produk rantai pasok AI yang tepercaya.
Di mana posisi Indonesia?
Posisi Indonesia sengaja dijaga lentur, dan pemberitaannya pun tidak seragam.
- Menko Airlangga menyatakan Indonesia “terlibat” dalam Pax Silica dan bahwa ada proses yang sedang berjalan. Ia menilai WAICO dan Pax Silica tidak harus bertentangan karena orientasinya berbeda: WAICO berfokus pada AI sebagai alat dan manfaat, sedangkan Pax Silica pada ekosistem yang lebih luas.
- Antara menulis bahwa Indonesia belum bergabung dengan Pax Silica, tetapi memiliki kerangka kerja sama digital dengan AS lewat Perjanjian Perdagangan Timbal Balik (ART) yang ditandatangani pada 19 Februari 2026. Jakarta Globe juga menyebut Indonesia belum menjadi penanda tangan resmi, sedangkan Jakarta Post menulis bahwa Indonesia bergabung “beberapa bulan” sebelumnya. Perbedaan ini sendiri adalah fakta yang perlu dicatat.
- Pernyataan pemerintah menyebut keikutsertaan di WAICO akan tetap selaras dengan regulasi dan kepentingan nasional, prinsip etika AI, kedaulatan data, dan komitmen kerja sama ekonomi strategis Indonesia. Peta jalan AI dan pedoman etika yang sedang difinalkan disebut sebagai acuan.
- Airlangga juga mengatakan ekonomi digital Indonesia kini sekitar US$130 miliar dan ditargetkan mendekati US$300 miliar, dengan AI sebagai pengungkit.
Peringatan dari Washington
Pada pertengahan Agustus, beberapa media melaporkan bahwa Departemen Luar Negeri AS menyiapkan draf surat kepada 35 negara. Menurut indoneo.com, surat itu memperingatkan bahwa ikut serta dalam inisiatif pesaing sambil berada dalam kerangka Pax Silica dapat membahayakan akses ke infrastruktur dan rantai pasok AI canggih, tanpa menyebut Tiongkok secara eksplisit. Laporan lain yang dikutip media menyebut surat sejenis mengisyaratkan bahwa negara tidak boleh berada di kedua kubu sekaligus. Yang belum jelas: apakah draf itu menjadi kebijakan resmi, bagaimana penegakannya, dan bagaimana ia berlaku bagi negara yang statusnya masih “berproses” seperti Indonesia.
Argumen yang diajukan
| Sudut pandang | Argumen utama |
|---|---|
| Pendukung keikutsertaan di WAICO | Akses pelatihan, pembangunan kapasitas, komputasi bersama, dan ekosistem sumber terbuka; suara dalam tata kelola sejak pendirian; diversifikasi pemasok; sejalan dengan politik luar negeri bebas-aktif. Dukungan publik pun ada: Pew, yang dikutip tech-insider.org, menemukan 64% orang dewasa Indonesia percaya Tiongkok akan mengatur AI secara efektif. |
| Pengkritik keikutsertaan di WAICO | Dapat mempersempit akses ke model dan teknologi buatan AS; keputusan yang dinilai sangat politis oleh seorang analis yang dikutip SCMP; tata kelola organisasi bermarkas di Shanghai; ASEAN terbelah karena Singapura dan Filipina berada di Pax Silica. |
| Pendukung Pax Silica | Akses yang lebih istimewa ke ekosistem komputasi, model, dan pasar yang dipercaya; koordinasi investasi di rantai pasok chip; kepastian bagi investor. |
| Pengkritik Pax Silica | Potensi eksklusivitas dan tekanan memilih pihak; konflik lahan pada proyek hub di lapangan; kekhawatiran kedaulatan. Koalisi masyarakat sipil Filipina menyebut pilihan antara kedua blok sebagai “pilihan palsu”. |
Tiga lapisan yang dipertaruhkan
| Lapisan | WAICO | Pax Silica | Pertanyaan bagi Indonesia |
|---|---|---|---|
| Akses | Rencana akses komputasi bersama dan sumber terbuka | Koordinasi rantai pasok chip dan investasi | Pemasok mana yang tetap tersedia bila satu jalur terputus? |
| Norma dan standar | Tata kelola berbasis PBB dan kerja sama pembangunan kapasitas | Standar rantai pasok dan keamanan teknologi | Standar siapa yang akan menjadi acuan regulasi dan pengadaan Indonesia? |
| Ekonomi | Kemitraan teknologi dan program kapasitas | Investasi pusat data dan manufaktur terkoordinasi | Bagaimana mengubah listrik, mineral, dan pasar domestik menjadi nilai tambah? |
Dampaknya sudah terasa di lapangan. Proyek pusat data di Batam menampung modal dari kedua sisi, seperti kami ulas di Batam di Persimpangan Perang Komputasi, sementara rilis model terbuka dari Tiongkok mengubah hitungan biaya dan pasokan, seperti dibahas di Kimi K3 dan Era Model Terbuka Kelas Frontier.
Yang belum kita ketahui
- Isi lengkap dan kewajiban mengikat dalam perjanjian WAICO, termasuk mekanisme pendanaan dan pengambilan keputusan.
- Status resmi Indonesia di Pax Silica: sudah menandatangani, sedang berproses, atau hanya terkait lewat ART.
- Apakah draf surat AS menjadi kebijakan resmi, dan bagaimana dampaknya pada negara yang berada di kedua inisiatif.
- Seperti apa akses komputasi bersama yang dijanjikan WAICO dalam praktik.
- Isi final peta jalan AI dan pedoman etika yang dijadikan acuan pemerintah.
Kerangka keputusan bebas-aktif
Bagian ini adalah analisis penulis, bukan fakta. Bebas-aktif di era AI tidak berarti netral dalam arti diam; ia berarti punya posisi yang jelas pada hal-hal yang tidak boleh ditawar, sambil membuka sebanyak mungkin jalur. Lima elemen yang layak dipertimbangkan:
- Garis merah yang tertulis. Tetapkan prinsip yang berlaku bagi semua mitra tanpa memandang asal negara: kedaulatan data, larangan akses khusus pihak asing atas data warga, kewajiban transparansi, dan kepatuhan pada UU Pelindungan Data Pribadi.
- Portabilitas dan diversifikasi. Pastikan sistem publik dan kritis dapat berpindah antar pemasok model, cloud, dan chip dalam waktu singkat. Kerangka skenario kami di Indonesia 2030 menunjukkan portabilitas sebagai pembeda utama saat akses terguncang.
- Transparansi kepada publik. Terbitkan teks perjanjian, kewajiban Indonesia, dan keluaran program (termasuk akses komputasi) supaya parlemen dan masyarakat dapat menilai.
- Kapasitas negosiasi. Bentuk tim teknis lintas kementerian yang membaca klausul, menilai risiko akses, dan menjaga konsistensi antara perjanjian digital dengan AS, keanggotaan WAICO, dan aturan domestik.
- Rencana kontingensi. Siapkan langkah bila salah satu jalur terputus atau dibatasi, termasuk model terbuka sebagai pemasok kedua dan kapasitas komputasi domestik.
Indonesia memiliki posisi tawar nyata: pasar domestik besar, mineral kritis, listrik, dan lokasi strategis di jalur komputasi Asia Tenggara. Bagaimana posisi tawar itu dipakai, termasuk apakah ia disertai kemampuan teknis untuk menegakkannya, akan lebih menentukan daripada label blok mana pun.
Yang perlu dipantau
- KTT ASEAN November 2026 dan rencana penandatanganan Digital Economy Framework Agreement (DEFA).
- Kunjungan Presiden AS ke Manila dan nasib proyek hub Pax Silica di Tarlac, Filipina, yang ditentang koalisi masyarakat sipil.
- Apakah surat peringatan AS menjadi kebijakan formal, dan siapa saja yang disasar.
- Ratifikasi ART antara Indonesia dan AS serta bab digitalnya.
- Keanggotaan tambahan pada WAICO dan program konkret yang diluncurkannya.
- Finalisasi peta jalan AI dan pedoman etika Indonesia.
Penutup
Indonesia berdiri di antara dua gagasan besar tentang bagaimana dunia mengelola AI: yang satu menekankan tata kelola dan pembangunan kapasitas, yang lain menekankan rantai pasok dan keamanan teknologi. Keduanya mengandung peluang dan harga. Negara yang paling beruntung bukan yang memilih paling cepat, melainkan yang paling siap, dengan data yang terlindungi, pemasok yang beragam, dan kemampuan teknis untuk membaca setiap klausul. Di era algoritma, kedaulatan dimulai dari kemampuan untuk memahami apa yang kita tandatangani.
Baca juga
- Batam di Persimpangan Perang Komputasi
- Anthropic Masuk Singapura: Perebutan Standar AI dan Posisi Tawar Indonesia
- Indonesia 2030: Empat Skenario di Persimpangan Akses dan Daya Serap AI
Sumber
- ANTARA, Indonesia joins China-initiated global AI cooperation body: en.antaranews.com
- ANTARA, Indonesia sees room for both China and US AI initiatives: Airlangga (17 Jul 2026): en.antaranews.com
- RRI, Indonesia Joins 28 Other Nations to Launch Global AI Cooperation Body: rri.co.id
- Xinhua, 29 countries sign agreement on establishing WAICO (17 Jul 2026): ydyl.gansu.gov.cn
- Reuters via Internazionale, Xi pitches China as leader of new global AI order (17 Jul 2026): internazionale.it
- Kementerian Luar Negeri Tiongkok, pidato Xi di WAIC 2026: fmprc.gov.cn
- The Star, Five Asean countries among 29 founding members of new global AI organisation: thestar.com.my
- The Asset, Five Asean countries join China-led AI group: theasset.com
- The Jakarta Post, Indonesia walks AI tightrope between China, US (22 Jul 2026): thejakartapost.com
- SCMP, Will Indonesia’s decision to join China-led AI body complicate US ties?: scmp.com
- Jakarta Globe, China’s WAICO or US-Led Pax Silica? Indonesia Stays Neutral: jakartaglobe.id
- Investortrust, Bantah gabung blok AI China, Airlangga: Indonesia juga terlibat di Pax Silica: investortrust.id
- Indoneo, Southeast Asia faces binary choice as US and China weaponise AI blocs: indoneo.com
- The National, US expands Pax Silica consortium’s AI footprint (25 Jun 2026): thenationalnews.com
- The Online Citizen, Groups vow to fight Pax Silica hub in the Philippines (21 Okt 2026): theonlinecitizen.com
- Tech-Insider, US-China AI blocs: WAICO, Pax Silica, countries torn (kutipan Pew): tech-insider.org












Leave a Reply